WAIT ME
Hari
ini matahari sangat tersenyum menatap ku hingga menembus berlapis kulit, lemak
hingga menusuk tulang ku, dan senyuman lina yang menyapa ku tak kalah indahnya
dari mentari pagi ini, aku dan lina adalah sahabat yang baik yang sampai saat
ini belum ada yang bisa memisahkan kita, bukan karena kita yang tak pernah
bertengkar tentu ada moment-moment dimana kami mempertahankan ego kami dimana
tak saling menyapa, dan itu adalah yang paling gila gilaaaa banget dan hal yang
paling mengerikan bagi kami, pergi sekolah yang berdua tak lagi berdua,
belajar, nonton, bermain, pulang sekolah, jajan,joging dan lain sebagainya dan
itu kami rasakan selama seminggu dan kami sadar kami tak mungkin selalu seperti
ini mempertahankan ego yang membuat hidup ini tak lagi berwarna, dan keluarga
kami selalu menanyakan hal yang sama, yaitu “apa kabar lina nak , kok ibu ndak
pernah lihat lina lagi sekarang ?“ keluarga lina pun menyakan hal yang sama
padanya “apa kabar yani nak , kok ibu ndak pernah lihat yani lagi sekarang ?“ ,
lalu entah apa yang buat kami angkur, yang ku ingat hanya karena sebuah
senyuman dan tawa seorang 3 anak kecil yang bermain bercanda tak henti, that all right saat itulah kami
melakukan segala aktivitas bersama lagi tapi upss.... jangan salah, kecuali
mandi yah, kami masih mampu untuk
MANDIRI (mandi sendiri ) hihihihi, oh ia hari ini giliran lina menginap
dirumah karena kemarin aku yang menginap dirumahnya, matahari yang terbit kini
mulai tergelam entah apa yang kulakukan seharian ini tampa bermain bersama lina
rasanya kangeeeeeeeeeeeeeen banget banget banget tak sadar suara ku
mengeluarkan suara hingga keluarga ku kaget dan berlari menuju pintu kamar ku
dan.....” “kamu kenapa ?” kata ayah. “kakak ini ngagetin saja “ kata adik ku dan
kata ibu “ jangan diulangi lagi itu tidak baik “, dan yang paling terakhir
nenek ku dia tak berkata apapun hanya menggeleng-gelengkan kepala yang berarti
itu tak baik, dan respon ku kali ini , tarik nafas dan... “maaf ayah, ibu,nenek
dan adik ku yang paling cerewet, janji aku tidak akan ulangi lagi “ lalu ku hembuskan
nafas ku secara perlahan”. tiba di depan pintu kamar ku... “kamu kenapa ?” kata
ayah. “kakak ini ngagetin saja “ kata
adik ku dan kata ibu “ jangan diulangi lagi itu tidak baik “, dan yang paling
terakhir nenek ku dia tak berkata apapun hanya menggeleng-gelengkan kepala yang
berarti itu tak baik, dan respon ku kali ini , tarik nafas dan... “maaf ayah,
ibu,nenek dan adik ku yang paling cerewet, janji ndak akan kakak ulangi lagi “
lalu kuhembuskan pelan-pelan J..
that’s all right sesuai dengan apa yang ku pikirkan sebelumnya hihihi,
Pukul 18.00 tepat dimana kehadiranya
memberi warna-warni kamar ku senyumnya yang membuat ku ingin tersenyum pula, aku
tak pernah merasa bosan saat bersamanya entah apa yang kurasakan ini, apakah
mungkin aku mencintai sesama jenisss ?, mungkinkan ? mungkin !! gilaaa kagak kali , aku tahu diri ku masih
normal walaupun aku single but i’m single
i’am verry happy, it’s no problem for
me, but i have lina , she is my best friend forever, amin amin , malam ini
akan menjadi malam yang panjang mengapa ? karena malam ini kami tidak akan
tidur yuhuuuuuy , aku dan lina bercerita hingga larut malam hingga ada
kata-kata yang jarang kami ucapkan, karena setiap perseteruan, kesalah pahaman,
kami tak pernah mengucapkannya karena kami mengerti tapi kali ini entah mengapa
lina mengucapkan kata itu “maaf yah yan jika lina punya salah sama yani, lina
sayang sama yani, yani adalah sahabat terbaik lina, lina harap yani selalu
baik-baik saja dan kita selalu bersama”. “ tentu lin kita akan selalu bersama
dan aku kan baik-baik saja karena ada lina disini, jika aku tidak baik-baik
saja ada lina lina yang baik-baikin aku
yah kan ?” canda ku pada lina. Lina hanya tersenyum dan kami melanjuti
cerita-cerita seru yang pada akhirnya kami tertidur entah jam berapa, menit
keberapa, dan detik keberapa yang pasti kami tertidur sangat pulas.
Esok
paginya dengan matahari tepat di pukul 8.00 kami bergegas untuk olahrga pagi,
berlari di seputaran kampung kami, dan bertemu dengan teman-teman kampung rara,
dan tita, kami bercerita di pos ronda,
dan kali ini kami akan membuat agenda, lina mengusulkan “bagaimana kalau nanti
siang kita ke.....pantai ??”, kami merima usulannya tampa waktu yang terbuang,
dan saat ini matahari semakin tinggi kami bergegas pulang, dan siap-siap pergi
kepantai ,lina menjemput ku kerumah, sedangkan rara dan tita sudah menunggu
kami di pos ronda, setelah kami berkumpul kami langsung capcus berangkat ke
pantai, diperjalanan kami bercanda, tertawa, nyanyi dan hari itu hari yang
menurut kami sangat menyenangkan tapi kenapa di perjalanan aku meliat bangkai
anjing yang kali ini membuat perasaan ku jadi tidak enak, aku tak perduli dan coba
mengontrol lagi perasaan ku, akhirnya aku melupakan hal itu, sudah setengah
perjalanan kami menuju pantai, lalu tiba-tiba lina berhenti di sebuah kios,
teman-teman yang lain pergidahulu untuk
melihat lokasi yang tepat dan nyaman. Lina memanggil ku “yan jajan apa yang enak
biar kita bisa makan bersama-sama di pantai ?”,”apa saja terserah mu lin “ jawab ku, dalam hati ku aku merasa
heran, kenapa lina baik hari ini, biasanya lina gak mau keluarin uang kalau
soal jajan karena itu boros menurutnya tapi kali ini lina berbeda dia membeli jajan
yang banyak mengapa ? mungkin hanya perasaan ku saja.
Diperjalanan
tiba di depan jembatan, lina bicara sesuatu yang tak masuk akal, katanya, ada
anjing besar setinggi pohon kelapa di jembatan yang akan halangi kita, aku tertawa,
tanda ku mengejek, mengapa ? karena yang aku liat tidak ada apa-apa dijembatan
itu, lalu dia menambah kecepatan motornya dan aku pun hampir terjatuh tapi
syukur selamat, alhamdulillah, “lina ke... “ belum selesai kata-kata ku, tiba-tiba
aku melihat dan “brukkk” motor rina
menabrak seekor anjing yang besar pengliatan ku, aku langsung loncat dan lina
terpelanting di suatu pohon yang menyerupai huruf Y, kepalanya masuk di antara batang itu
dengan badan yang menggelantung, aku sempat melihatnya dan aku menangis ,tapi
apa daya aku tak bisa merangkulnya karena aku pun tak sanggup untuk berdiri, orang-orang
sekitar mengerumuni kami berdua, di sela-sela itu aku mengingat anjing yang
besar yang di tabrak oleh lina tapi
ternyata anjing itu tidak ada, aku hanya membuat diriku semakin pusing dan
akhirnya aku tak sadarkan diri, saat ku tersadar aku telah berada di ruang yang
putih dengan kasur yang putih ternyata itu rumah sakit, ibuku berada tepat di
samping ku, aku langsung menayakaan keadaan lina sahabat ku yang bersama ku di
motor dengan suara yang terpatah-patah “ iiibuu lina dimana ?? lliinna baik
baaaik saja kan bu’ ?” ibu ku hanya menangis mendengar pertanyaan ku, aku semakin khwatir dan aku menanyakan
lagii pertanyaan yang sama pada ibu ku “ iibu’ jawab aku, kenapa ibu
menangis,lina tidak apa-apa kan bu’?” “ yan, sabar yah nak lina sudah pergi,”
jawabya dengan suara yyang lirih, aku sontak dan tak bisa mengendalikan nafas
ku, lalu ibu memanggilkan suster, aku tak mampu lagi untuk berbicara hanya air
mata yang menggambarkan betapa sedihnya aku saat ini, dengan mata yang lembab
dan bengkak aku menuju musollah di rumah
sakit itu ,dengan di gandeng tangan ku oleh suster dan ibuku, disana aku berdoa
untuk sahabat ku semoga lina di terima di sisi yang kuasa disitu aku tak mampu
membendung lagi air mata ku, aku menangis sekeras mungkin tak henti memohon
jikalau masih ada kesempatan untuk sahabat ku ini, aku tak bisa bila sendiri,
senyumnya yang buat hidup ku menjadi warna yang berbeda-beda yang selalu ingin
mengajak ku untuk selalu ingin tersnyum, dan malam tadi apa yang kita lakukan
sepanjang malam, dan apa kita lakukan tadi pagi bersama-sama, tak habis pikir
mengapa secepat ini, mengapa ?, aku tak tau mengapa ? dan akhirnya aku sudah
berada lagi di ruangan putih. Saat kondisi ku mulai membaik, aku meminta izin
pada dokter agar bisa pulang karena luka ku yang tidak terlalu parah akhirnya
aku diizinkan, tiba di rumah aku langsung ke pemakaman lina untuk meliatnya
terakhir kali, air mata ku terus mengalir
tak kunjung henti saat meliat detik-detik sahabat ku menuju liang lahat
tempat peristirahatan terakhirnya dan mulai semuanya berputar hingga mata ku menjadi
buram dan aku pingsan di pemakamn sahabat ku ini.
Saat
ku tersadar, aku sudah bisa merelakannya, lina sahabat ku, aku tak pernah
mendapat sahabat seperti mu yang mampu, mengerti ku disaat aku mulai egois,
yang mampu membela ku walaupun aku salah, yang mampu mengingat ku saat aku
lupa, yang mampu mendengarkan ku walau
aku tak berbicara yang tak merasa bosan saat mendengar ceritaku yang kunjung
tak henti, yang mampu mengulurkan pundak mu saat aku menangis dan yang mampu
mengulurkan tangan mu saat aku terjatuh, aku tidak akan bisa melupakan mu,
hingga suatu saat nanti aku berkeluarga aku akan ceritakan pada keluarga ku
bahwa aku sangat senang mengenal sahabat seperti mu aku menyayangi mu , selamat
tinggal sahabat, kau akan bahagiaa di alam sana hingga suatu saat kita akan
bertemu lagi di kehidupan yang abadi. Tunggu aku J.
Zukhriani zamzami, seorang gadis yang berusia 18thn lahir di Medan, pada 30 Mei 1997. Gadis ini bertempat tinggal
di Sumbawa Barat tepatnya di Taliwang Ia adalah alumni SMAN 1 Taliwang. Saat ini, gadis ini sedang menempuh pendidikan di
Mataram dan tercatat sebagai mahasiswa baru Jurusan Agribisnis , Fakultas Pertanian
Universitas Mataram. Ini adalah pertama kali ia menulis sebuah cerpen yang di
lombakan tak ada cerita dan pengalaman dalam menulis yang ia pikir “inilah
saatnya untuk menulis”
Kritik dan saran sangat ia harapkan guna peningkatan
kualitas dan penulisan selanjutnya. Untuk itu, silahkan kirim kritik dan saran
ke :
Z zamzami
zukhriani 3Z


