Senin, 10 Oktober 2016

CERPEN



WAIT ME
Hari ini matahari sangat tersenyum menatap ku hingga menembus berlapis kulit, lemak hingga menusuk tulang ku, dan senyuman lina yang menyapa ku tak kalah indahnya dari mentari pagi ini, aku dan lina adalah sahabat yang baik yang sampai saat ini belum ada yang bisa memisahkan kita, bukan karena kita yang tak pernah bertengkar tentu ada moment-moment dimana kami mempertahankan ego kami dimana tak saling menyapa, dan itu adalah yang paling gila gilaaaa banget dan hal yang paling mengerikan bagi kami, pergi sekolah yang berdua tak lagi berdua, belajar, nonton, bermain, pulang sekolah, jajan,joging dan lain sebagainya dan itu kami rasakan selama seminggu dan kami sadar kami tak mungkin selalu seperti ini mempertahankan ego yang membuat hidup ini tak lagi berwarna, dan keluarga kami selalu menanyakan hal yang sama, yaitu “apa kabar lina nak , kok ibu ndak pernah lihat lina lagi sekarang ?“ keluarga lina pun menyakan hal yang sama padanya “apa kabar yani nak , kok ibu ndak pernah lihat yani lagi sekarang ?“ , lalu entah apa yang buat kami angkur, yang ku ingat hanya karena sebuah senyuman dan tawa seorang 3 anak kecil yang bermain bercanda tak henti, that all right saat itulah kami melakukan segala aktivitas bersama lagi tapi upss.... jangan salah, kecuali mandi yah, kami masih mampu untuk  MANDIRI (mandi sendiri ) hihihihi, oh ia hari ini giliran lina menginap dirumah karena kemarin aku yang menginap dirumahnya, matahari yang terbit kini mulai tergelam entah apa yang kulakukan seharian ini tampa bermain bersama lina rasanya kangeeeeeeeeeeeeeen banget banget banget tak sadar suara ku mengeluarkan suara hingga keluarga ku kaget dan berlari menuju pintu kamar ku dan.....” “kamu kenapa ?” kata ayah.  “kakak ini ngagetin saja “ kata adik ku dan kata ibu “ jangan diulangi lagi itu tidak baik “, dan yang paling terakhir nenek ku dia tak berkata apapun hanya menggeleng-gelengkan kepala yang berarti itu tak baik, dan respon ku kali ini , tarik nafas dan... “maaf ayah, ibu,nenek dan adik ku yang paling cerewet, janji aku tidak akan ulangi lagi “ lalu ku hembuskan nafas ku secara perlahan”. tiba di depan pintu kamar ku... “kamu kenapa ?” kata ayah.  “kakak ini ngagetin saja “ kata adik ku dan kata ibu “ jangan diulangi lagi itu tidak baik “, dan yang paling terakhir nenek ku dia tak berkata apapun hanya menggeleng-gelengkan kepala yang berarti itu tak baik, dan respon ku kali ini , tarik nafas dan... “maaf ayah, ibu,nenek dan adik ku yang paling cerewet, janji ndak akan kakak ulangi lagi “ lalu kuhembuskan pelan-pelan J.. that’s all right sesuai dengan  apa yang ku pikirkan sebelumnya hihihi,
            Pukul 18.00 tepat dimana kehadiranya memberi warna-warni kamar ku senyumnya yang membuat ku ingin tersenyum pula, aku tak pernah merasa bosan saat bersamanya entah apa yang kurasakan ini, apakah mungkin aku mencintai sesama jenisss ?, mungkinkan ? mungkin !!  gilaaa kagak kali , aku tahu diri ku masih normal walaupun aku single but i’m single i’am verry happy,  it’s no problem for me, but i have lina , she is my best friend forever, amin amin , malam ini akan menjadi malam yang panjang mengapa ? karena malam ini kami tidak akan tidur yuhuuuuuy , aku dan lina bercerita hingga larut malam hingga ada kata-kata yang jarang kami ucapkan, karena setiap perseteruan, kesalah pahaman, kami tak pernah mengucapkannya karena kami mengerti tapi kali ini entah mengapa lina mengucapkan kata itu “maaf yah yan jika lina punya salah sama yani, lina sayang sama yani, yani adalah sahabat terbaik lina, lina harap yani selalu baik-baik saja dan kita selalu bersama”. “ tentu lin kita akan selalu bersama dan aku kan baik-baik saja karena ada lina disini, jika aku tidak baik-baik saja ada lina lina yang baik-baikin aku  yah kan ?” canda ku pada lina. Lina hanya tersenyum dan kami melanjuti cerita-cerita seru yang pada akhirnya kami tertidur entah jam berapa, menit keberapa, dan detik keberapa yang pasti kami tertidur sangat pulas.
Esok paginya dengan matahari tepat di pukul 8.00 kami bergegas untuk olahrga pagi, berlari di seputaran kampung kami, dan bertemu dengan teman-teman kampung rara, dan tita,  kami bercerita di pos ronda, dan kali ini kami akan membuat agenda, lina mengusulkan “bagaimana kalau nanti siang kita ke.....pantai ??”, kami merima usulannya tampa waktu yang terbuang, dan saat ini matahari semakin tinggi kami bergegas pulang, dan siap-siap pergi kepantai ,lina menjemput ku kerumah, sedangkan rara dan tita sudah menunggu kami di pos ronda, setelah kami berkumpul kami langsung capcus berangkat ke pantai, diperjalanan kami bercanda, tertawa, nyanyi dan hari itu hari yang menurut kami sangat menyenangkan tapi kenapa di perjalanan aku meliat bangkai anjing yang kali ini membuat perasaan ku jadi tidak enak, aku tak perduli dan coba mengontrol lagi perasaan ku, akhirnya aku melupakan hal itu, sudah setengah perjalanan kami menuju pantai, lalu tiba-tiba lina berhenti di sebuah kios, teman-teman  yang lain pergidahulu untuk melihat lokasi yang tepat dan nyaman. Lina memanggil ku “yan jajan apa yang enak biar kita bisa makan bersama-sama di pantai ?”,”apa saja  terserah mu lin “ jawab ku, dalam hati ku aku merasa heran, kenapa lina baik hari ini, biasanya lina gak mau keluarin uang kalau soal jajan karena itu boros menurutnya  tapi kali ini lina berbeda dia membeli jajan yang banyak mengapa ? mungkin hanya perasaan ku saja.
Diperjalanan tiba di depan jembatan, lina bicara sesuatu yang tak masuk akal, katanya, ada anjing besar setinggi pohon kelapa di jembatan yang akan halangi kita, aku tertawa, tanda ku mengejek, mengapa ? karena yang aku liat tidak ada apa-apa dijembatan itu, lalu dia menambah kecepatan motornya dan aku pun hampir terjatuh tapi syukur selamat, alhamdulillah, “lina ke... “ belum selesai kata-kata ku, tiba-tiba aku melihat dan “brukkk” motor  rina menabrak seekor anjing yang besar pengliatan ku, aku langsung loncat dan lina terpelanting di suatu pohon yang menyerupai  huruf Y, kepalanya masuk di antara batang itu dengan badan yang menggelantung, aku sempat melihatnya dan aku menangis ,tapi apa daya aku tak bisa merangkulnya karena aku pun tak sanggup untuk berdiri, orang-orang sekitar mengerumuni kami berdua, di sela-sela itu aku mengingat anjing yang besar yang di tabrak oleh lina  tapi ternyata anjing itu tidak ada, aku hanya membuat diriku semakin pusing dan akhirnya aku tak sadarkan diri, saat ku tersadar aku telah berada di ruang yang putih dengan kasur yang putih ternyata itu rumah sakit, ibuku berada tepat di samping ku, aku langsung menayakaan keadaan lina sahabat ku yang bersama ku di motor dengan suara yang terpatah-patah “ iiibuu lina dimana ?? lliinna baik baaaik saja kan bu’ ?” ibu ku hanya menangis mendengar pertanyaan  ku, aku semakin khwatir dan aku menanyakan lagii pertanyaan yang sama pada ibu ku “ iibu’ jawab aku, kenapa ibu menangis,lina tidak apa-apa kan bu’?” “ yan, sabar yah nak lina sudah pergi,” jawabya dengan suara yyang lirih, aku sontak dan tak bisa mengendalikan nafas ku, lalu ibu memanggilkan suster, aku tak mampu lagi untuk berbicara hanya air mata yang menggambarkan betapa sedihnya aku saat ini, dengan mata yang lembab dan bengkak aku menuju musollah  di rumah sakit itu ,dengan di gandeng tangan ku oleh suster dan ibuku, disana aku berdoa untuk sahabat ku semoga lina di terima di sisi yang kuasa disitu aku tak mampu membendung lagi air mata ku, aku menangis sekeras mungkin tak henti memohon jikalau masih ada kesempatan untuk sahabat ku ini, aku tak bisa bila sendiri, senyumnya yang buat hidup ku menjadi warna yang berbeda-beda yang selalu ingin mengajak ku untuk selalu ingin tersnyum, dan malam tadi apa yang kita lakukan sepanjang malam, dan apa kita lakukan tadi pagi bersama-sama, tak habis pikir mengapa secepat ini, mengapa ?, aku tak tau mengapa ? dan akhirnya aku sudah berada lagi di ruangan putih. Saat kondisi ku mulai membaik, aku meminta izin pada dokter agar bisa pulang karena luka ku yang tidak terlalu parah akhirnya aku diizinkan, tiba di rumah aku langsung ke pemakaman lina untuk meliatnya terakhir kali, air mata ku terus mengalir  tak kunjung henti saat meliat detik-detik sahabat ku menuju liang lahat tempat peristirahatan terakhirnya dan mulai semuanya berputar hingga mata ku menjadi buram dan aku pingsan di pemakamn sahabat ku ini.
Saat ku tersadar, aku sudah bisa merelakannya, lina sahabat ku, aku tak pernah mendapat sahabat seperti mu yang mampu, mengerti ku disaat aku mulai egois, yang mampu membela ku walaupun aku salah, yang mampu mengingat ku saat aku lupa,  yang mampu mendengarkan ku walau aku tak berbicara yang tak merasa bosan saat mendengar ceritaku yang kunjung tak henti, yang mampu mengulurkan pundak mu saat aku menangis dan yang mampu mengulurkan tangan mu saat aku terjatuh, aku tidak akan bisa melupakan mu, hingga suatu saat nanti aku berkeluarga aku akan ceritakan pada keluarga ku bahwa aku sangat senang mengenal sahabat seperti mu aku menyayangi mu , selamat tinggal sahabat, kau akan bahagiaa di alam sana hingga suatu saat kita akan bertemu lagi di kehidupan yang abadi. Tunggu aku J. 

Zukhriani zamzami, seorang gadis yang berusia 18thn lahir di Medan,  pada 30 Mei 1997. Gadis ini bertempat tinggal di Sumbawa Barat tepatnya di Taliwang   Ia adalah alumni SMAN 1 Taliwang. Saat ini,  gadis ini sedang menempuh pendidikan di Mataram dan tercatat sebagai mahasiswa baru Jurusan Agribisnis , Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Ini adalah pertama kali ia menulis sebuah cerpen yang di lombakan tak ada cerita dan pengalaman dalam menulis yang ia pikir “inilah saatnya untuk menulis” 
Kritik dan saran sangat ia harapkan guna peningkatan kualitas dan penulisan selanjutnya. Untuk itu, silahkan kirim kritik dan saran ke :
                                                             Z zamzami   zukhriani 3Z

Tidak ada komentar:

Posting Komentar